Kedaulatan dan Keadilan Jadi Hal Utama

Keadilan dan kedaulatan menjadi landasan penting terjaganya persaudaraan antarwarga bangsa. Pertikaian dan perang di sejumlah bagian dunia, antara lain, dipicu oleh masalah keadilan dan kedaulatan.

Upaya mewujudkan keadilan dan kedaulatan ini menjadi tugas semua pihak, termasuk Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia.

Pesan itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3/2019).

Acara yang bertema ”Memperkuat Ukhuwah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat” ini dibuka Rabu, 27 Februari lalu.

Menurut Wapres, hampir semua negara yang berkonflik, seperti Suriah, Irak, Libya, Yaman, Mesir, dan Tunisia, berbentuk republik. ”Namun, perilakunya seperti kerajaan. Tanpa memperhatikan kedaulatan rakyat, timbullah perang satu sama lain dan ini membuat kita sedih,” kata Wapres.

Pertikaian juga terjadi di Asia Tenggara, seperti di Filipina, Thailand selatan, dan Myanmar. Indonesia aktif menjadi penengah dalam sejumlah pertikaian itu.

Dalam pertikaian di Filipina, misalnya, Presiden Joko Widodo setuju untuk membantu membangun masjid raya di Marawi yang hancur akibat konflik. ”Upaya ini sebagai tanda bahwa Indonesia selalu berperan baik untuk bangsa-bangsa itu,” kata Kalla.

Pelajaran yang bisa diambil dari setiap pertikaian itu adalah adanya masalah keadilan. ”Intinya, rasa keadilan,” katanya.

Keadilan dan kedaulatan ini juga tak bisa dilepaskan dari tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Apabila pengetahuan masyarakat rendah, mereka akan mudah dibawa ke arah yang tidak sesuai dengan tujuan bernegara.

Indonesia, lanjut Wapres, harus bersyukur karena selalu menjadikan kedamaian dan kedaulatan rakyat sebagai bagian utama dalam perjuangan.

Dalam hal ini, kata Wapres, NU juga telah banyak berperan, terutama melalui ribuan pesantren di Tanah Air. Di samping meningkatkan akidah dan ibadah, pesantren juga didorong untuk meningkatkan nilai-nilai muamalah atau implementasi hubungan baik dengan sesama manusia.

Perdamaian
Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan, upaya menjaga perdamaian yang digagas pemerintah menunjukkan penerapan dari konsep Islam Nusantara yang ditegaskan kembali dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019.

Munas menyepakati optimalisasi peran NU dalam menyelesaikan konflik internasional dan mewujudkan kedamaian dunia dengan semangat Islam Nusantara, yakni Islam yang damai, harmonis, santun, antikekerasan, dan antiradikalisme.

Dalam kehidupan berbangsa, hasil munas terutama menegaskan, setiap warga negara memiliki kedudukan dan hak yang sama di mata konstitusi.

Munas juga memberikan putusan mengenai hal lain, seperti pengelolaan sampah plastik yang wajib hukumnya dan sistem perdagangan multilevel marketing yang tidak disertai transparansi dipandang haram.

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan, munas juga mengangkat isu-isu aktual dan menyangkut kehidupan rakyat karena NU harus memberi manfaat langsung ke masyarakat.

 

Sumber: Kompas, 2/3/2019

You may also like...