Jenggala Center Adakan Diskusi Tentang Hak Konstitusional Pemilih

Jenggala Center mengadakan diskusi tematik dengan tema “Hak Konstitusional Pemilih dalam Negara Demokratis” yang diselenggarakan di kantor Jenggala Center, Kebayoran Baru (28/2). Diskusi ini bertujuan membahas isu aktual yang ada di masyarakat dengan mengundang pakar dalam bidangnya.

Hadir sebagai pembicara dalam tema ini, yakni Prof. Dr. Syamsuddin Haris, M.Si. pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lucius Karus peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi).

Prof Haris berpendapat bahwa hal paling mendasar tentang konstitusi pemilih adalah menjadikan publik sebagai subyek. Artinya publik tidak hanya dianggap sebagai objek yang dieksploitasi. sebaliknya dengan sebagai subjek, publik menjadi aktor aktif yang menentukan suasana pemilu dan Pilpres kali ini.

“Publik berhak mendapatkan kampanye yang berpendidikan dan mencerdaskan. Bangsa ini mau dibawa kemana oleh calon. kenapa? Pemilu ini harus sebagai implementasi kedaulatan rakyat” ujar Prof Haris.

Lain halnya, pengamatan dari Lucius. “jumlah pemilih yang belum final bisa menjadi masalah besar, tiap bulan bisa berubah. Ini hampir di ujung, KPU, Pemerintah dan DPR masih ada waktu 1 bulan lebih untuk membicarakan teknis dengan hati dingin” ungkap Lucius.

Lucius juga menambahkan bahwa jika undang-undang mengatakan yang mempunyai suara adalah yang mempunyai KTP, maka bagaimana orang yang baru berumur 17 tahun di bulan Maret/April ini, dikhawatirkan mereka malah tidak mempunyai hak pilih karena belum terhitung di DPT terakhir versi KPU.

Diskusi tematik kali ini dimoderatori oleh Syamsuddin Rajab. Menurut dia, diskusi tematik ini akan semakin intens sampai sebelum tangggal Pemilu dan Pilpres.

“Jenggala Center ini kita harap bisa menjawab isu liar yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat bisa semakin cerdas dalam menanggapi isu-isu yang ada.” pungkas Syamsuddin.

You may also like...