Satelit Nusantara Satu, menyatukan Indonesia

Gegara Jokowi pernah berencana melakukan buyback Indosat, banyak yang “nyinyir” menagih rencana itu, sehingga Indosat merasa di atas angin, jual mahal.

Jokowi lalu menantang, bila ada satelit baru yang lebih baik dan membuat Indonesia bermartabat mengapa harus membeli satelit usang? Karena sejatinya, semua produk teknologi akan dihadapkan pada risiko usang (obsolescence risks). Dan karena pilihannya itu pula, Jokowi rela dituduh ingkar janji demi untuk memberikan yang terbaik bagi Bangsa Indonesia.

Satelit Nusantara Satu (PSN VI) adalah satelit komunikasi geo stasioner (GEO) Indonesia yang dimiliki oleh Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Satelit ini ditempatkan pada posisi di atas equator pada 146 BT dan bergerak bersamaan dengan rotasi bumi.

Satelit Nusantara Satu merupakan Satelit Broadband pertama Indonesia yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) dengan kapasitas bandwidth yang lebih besar untuk memberikan layanan akses broadband ke seluruh wilayah Indonesia.

Memiliki kapasitas 26 transponder C-band dan 12 transponder Extended C-band serta 8 spot beam Ku-band dengan total kapasitas bandwidth mencapai 15 Gbps, dengan area cakupan (coverage) hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Bandingkan dengan kecepatan satelit konvensional yang sekarang kita rasakan. Maksimum kecepatan hanya 5 Mbps. Artinya satelit ini kecepatannya 5 kali dari yang ada.

Nusantara Satu dibuat oleh Space System Loral (SSL), Amerika Serikat dan diluncurkan di Cape Canaveral, Amerika Serikat pada Februari 2019 menggunakan roket peluncur Falcon-9 dari perusahaan Space-X.

Satelit PSN IV ini melengkapi dua satelit lainnya yang telah diluncurkan Jokowi, yakni Satelit LAPAN A2 (2015) dan Satelit LAPAN A3 (2016). Good bye, Indosat !

Welcome, Satelit Nusantara Satu !

You may also like...