JK: Anak Jokowi Tak Ada yang Kerja untuk Proyek Pemerintah

Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla saat tiba menghadiri pembukaan KTT ASEM (Asia-Europe Meeting) ke-12 di Brussels, Belgia, (18/10). KTT ASEM ke-12 mengangkat tema Europe and Asia: Global Partners for Global Challenges. (AFP Photo/Aris Oikonomou)

Jusuf Kalla (JK) mengungkap kebersamaannya selama empat tahun menjadi Wapres mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam kurun itu, keduanya tidak pernah membicarakan proyek yang bersifat pribadi.

“Saya ingin katakan saja. Saya empat tahun bersama-sama dengan Pak Jokowi, belum pernah satu kali pun kita berbicara secara pribadi tentang proyek. Belum pernah!” katanya saat memberi arahan di acara Forum Silaturahim Gawagis Nusantara di Ballroom Hotel Wyndham Jl Basuki Rahmat, Surabaya, Sabtu (23/2/2019).

“Kecuali untuk umum, untuk bangsa, tapi secara pribadi tidak pernah! Kita tidak ada pembicaraan sesuatu tanpa rapat. Artinya sangat-sangat demokratis,” sambung Wapres yang berlatar belakang pengusaha tersebut.

Selain itu, kata JK, Jokowi juga memberikan keteladanan tidak ada nepotisme dalam kepemimpinannya. Hal itu bisa dilihat dari anak-anaknya, tidak ada satu pun yang bekerja untuk proyek-proyek pemerintah.

“Yang satu berdagang pisang, yang satu berusaha di bidang martabak dan sebagainya. Berbeda dengan zaman dahulu, punya proyek ini, punya proyek ini, beliau tidak!” terangnya yang disambut pekik sejumlah gus: Hidup Jokowi! diiringi aplaus panjang.

JK lantas menjelaskan, bahwa kehancuran sebuah negara disebabkan dua hal. Pertama, pemerintah yang otoriter dan bisa merujuk pada Orde Baru serta Venezuela.

Otoriter, kata JK, selalu dibarengi dengan korupsi dan nepotisme. Entah memberi ruang untuk famili, saudara, adik, atau anaknya. “Kita alhamdullilah tidak otoriter, karena segala sesuatu hal harus dirapatkan terlebih dahulu,” jelasnya.

Situasi Lebih Baik

Kedua, lanjut JK, tidak ada ciri nepotisme dalam pemerintahan Jokowi dan dirinya karena semuanya diserahkan kepada kemampuan masing-masing.

“Jadi insyaallah negeri ini akan aman, apabila pemerintahan ini akan berlanjut tanpa tadi dengan ciri-ciri (otoriter dan nepotisme),” kata JK yang kembali mendapat aplaus panjang.

Sebaliknya, jika pemerintah dihinggapi ciri nepotisme dan otoriter, maka itu awal kebangkrutan suatu negara. JK mencontohkan Venezuela yang dulu sangat kaya, sekarang inflasinya 1,5 juta per tahun.

“Artinya barang naik 1,5 juta kali. Mau beli pun dibutuhkan satu karung uang. Kita maksimum di waktu krisis 70 persen, ini (Vanezuela) 1 juta persen,” ucapnya.

“Inilah yang menggambarkan, insyaallah kita akan mengalami suatu situasi yang lebih baik, apabila kita konsekuen memilih pemimpin yang tidak otoriter dan tidak nepotisme,” pungkasnya, lagi-lagi disambut pekik sejumlah gus: Hidup Jokowi! diiringi aplaus panjang.

Sumber: Barometer Jatim, 23/2/2019

You may also like...