Munajat 212 Ricuh Cuy

FPI mengadakan kegiatan malam munajat 212 di kawasan Monas (21/2). Malam munajat ini diklaim menjadi acara keagamaan tanpa embel-embel politik sama sekali. Namun fakta yang muncul di permukaan malah sebaliknya.

Kalian bisa mencari pemberitaan di internet tentang munajat 212 yang ricuh. Ada beberapa Jurnalis dicekik, dicakar, ditarik-tarik, dipaksa jongkok, kehilangan ponsel, hingga rekaman liputan dihapus. muncul pertanyaan besar, Hal apa yang membuat manusia di sana tidak terkontrol dan menjadi liar.

karena kejadian ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis di malam munajat 212. AJI Jakarta pun menyerukan Mendesak aparat kepolisian menangkap para pelaku dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera.

Ada yang mengatakan gara-gara aksi copet yang merembet ke kericuhan karena ketidaksigapan panitia keamanan. Tapi apapun itu, bisa dikatakan kegiatan Munajat 212 ini benar benar ricuh dan banyak catatan.

 

Semangat agama tidak dibarengi nalar pikir

Dengan semangat 212, FPI menggerakkan alumni 212 untuk berkumpul berdoa bersama  dan mendengarkan orasi beberapa tokoh dan diakhiri dengan titah Riziq Shihab.

Peserta banyak yang meneriakkan Prabowo-Sandi dan berpose dua jari dalam kegiatan ini. Orator pun mengujarkan orasi yang bernuasna sarat politis untuk mendukung paslon tertentu walau tidak menyebut secara tersurat dan acap kali kalimat yang meluncur dari orator adalah menjelekkan pemerintah.

Bagaimana bisa kegiatan ini mengklaim tanpa ada campur tangan politik praktis. Fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Tampak hadir pula di sana Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang diberi kesempatan untuk memberikan orasi.

Heran , kok bisa ya  aktifitas keagamaan dijadikan sebagai topeng untuk mencapai kekuasaan. Membuat tameng agama agar dianggap sakral oleh banyak orang. Penulis pikir penyebab utama orang percaya kepada hal-hal seperti itu adalah ketiadaan nalar pikir.

Nalar pikir yang jernih nan mengalir tidak digunakan orang-orang itu. Ini sudah diwanti oleh Ibnu Rushd berabad silam,”Jika Kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala suatu yang batil dengan kemasan agama”. Penulis rasa ini masih sangat relevan sampai hari ini. Pertikaian di Timur Tengah salah satu penyebabnya adalah kebodohan orang-orang yang mampu disetir oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Wallahu a’lam bishowab

You may also like...