Tim Sukses Jokowi dan Jusuf Kalla 2014 Mulai Bekerja

JAKARTA, KOMPAS — Mengamankan elektabilitas, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendapat dukungan dari jaringan Jenggala Center. Mesin jaringan yang pernah bergerak pada Pemilu 2014 mulai dihidupkan dan digerakkan kembali.

Upaya pemenangan diharap semakin intens setelah rapat koordinasi nasional Jenggala Center di Jakarta, Minggu (3/2/2019). Rapat yang berlangsung pagi sampai sore ini dihadiri capres Joko Widodo maupun Ketua Dewan Pembina Jenggala Center Jusuf Kalla. Selain itu, tampak pula politisi PDIP Sidarto Danusubroto, pengusaha Sofjan Wanandi, dan politisi Partai Golkar seperti Ginanjar Kartasasmita dan Agus Gumiwang Kartasasmita, serta Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Erick Thohir.

Ketua Yayasan Jenggala Ibnu Munzir menyebutkan rakornas dihadiri ketua jenggala daerah dari 27 provinsi serta pimpinan jaringan seperti Perempuan Jenggala, Jaringan Kemanusiaan, Jaringan Matahari, Tim Jenggala Otomotif Militan, Jaringan Aktivis Jenggala, Jaringan Relawan Nusantara, Gawagis Jatim, Hejo, dan Solihin GP Center.

Jokowi menyebut pertemuan ini sebagai penegasan bahwa Jusuf Kalla akan terus mendukung pencalonannya dengan Ma’ruf Amin. “Sudah jelas. Jangan sampai ada isu lain. Pak JK sejak awal membantu kami,” ujarnya kepada wartawan seusai berbicara kepada para pendukungnya.

Kalla menambahkan, jaringan yang pernah membantu pemenangan Jokowi-JK dalam Pemilu Presiden 2014 kini siap bergerak kembali.
Jenggala Center tidak bergerak di 34 provinsi, melainkan di 27 provinsi saja. Hal ini, menurut Ibnu Munzir, karena di provinsi-provinsi tersebut, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih fluktuatif dan belum aman.

Presiden Joko Widodo bersantap siang bersama di kediaman pribadi Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jalan Haji Bau, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (22/12/2018) Foto: SEKRETARIAT PRESIDEN/KRIS

Sulawesi belum aman

Salah satu daerah yang disebut belum aman adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Pada 2014, pasangan Jokowi-JK mendapatkan 71,41 persen suara, tetapi dalam survei Desember 2018, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf hanya 47 persen di provinsi tersebut, kira-kira sama dengan elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Setelah penyebaran alat peraga kampanye dan kerja selama kurang dari dua pekan, lanjut Ibnu, survei menunjukkan kenaikan elektabilitas menjadi 51 persen.

“Memang kondisi psikologisnya beda karena dulu Pak JK langsung (cawapresnya) tapi setidaknya diupayakan (perolehan suaranya) sama,” tuturnya.

Selain Sulsel, wilayah yang juga mulai disasar antara lain Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Aceh, dan wilayah Indonesia Timur. Di beberapa wilayah, menurut Ibnu, kondisi psikologisnya bisa dipahami berat untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf. Kendati demikian, jarak kekalahan bisa diperkecil.

Erick Thohir ketika ditanya pengaruh dukungan dan deklarasi pada elektabilitas calon memilih untuk tak menjawab. “Nggak berani komen,” ujarnya singkat.

Namun, Ibnu Munzir berupaya menepis anggapan bahwa ada kekhawatiran elektabilitas pasangan capres cawapres nomor urut dua terus menyusul pasangan nomor urut satu. “’Kan biasa dalam suatu proses itu. Kalau ada satu kegiatan, mungkin dianggap efektif secara nasional dan berpengaruh. Seperti penetapan pasangan, ada fluktuasi, (elektabilitas) Pak Jokowi sedikit turun sedangkan satunya naik setelah itu stagnan. Itu baru tahap awal penetapan pasangan. Perkembangannya, kami lihat (elektabilitas) Pak Jokowi naik lalu yg satunya stagnan bahkan cenderung turun,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf tak hanya dari jaringan Jenggala Center tetapi dari TKN maupun kelompok-kelompok relawan lainnya.

Ibnu Munzir memastikan gerakan jaringan ini ke lapangan bukan melalui media sosial. Iskandar Mandji, Ketua Tim Nasional Jenggala Center, menyebut upaya pemenangan dari pintu ke pintu (door to door) untuk menyebarkan informasi dan bukti-bukti kepemimpinan Jokowi selama ini.

Sumber: Kompas, 3/2/2019

You may also like...