Jalan Tol dan Upaya Berkeadilan

Sejumlah kendaraan melintas di jalan tol Trans-Jawa ruas Ngawi-Kertosono di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (12/11/2018). Jalan tol Trans-Jawa yang menghubungkan Merak-Surabaya saat ini pengerjaannya mencapai 95 persen dan ditargetkan selesai akhir Desember 2018. ANTARA FOTO/Siswowidodo/ama

Dalam khazanah Islam dan Pembangunan atau “Teologi Pembangunan” dapat dipahami bahwa suatu pembangunan dapat disebut “islamy” ketika diorientasikan paling tidak pada upaya penegakan atau pemenuhan suatu nilai dari sekian nilai-nilai luhur universal yang menjadi tugas utama pemerintah atau seorang pemimpin.

Konsisten dengan itu, pembangunan jalan tol yang bertujuan untuk menunjang terwujudnya keadilan dan pemerataan kesejahteraan dapat dilihat sebagai bagian dari implementasi Teologi Pembangunan tersebut (Tentu saja ini diskursus).

Mungkin sementara orang berpendapat bahwa keberadaan jalan tol hanya bermanfaat bagi golongan tertentu saja yakni orang kaya sebagai pengguna, owner atau investor sebagai pemilik.

Tetapi, jika dipandang secara holistik dengan menggunakan paradigma “multiplier effect” dapat dilihat bahwa manfaat jalan tol tidaklah hanya sebatas itu, tetapi lebih luas telah berdampak pada agenda mewujudkan keadilan dan pemerataan.

Keberadaan jalan tol yang telah memotong jarak dan waktu tempuh telah menambah frekuensi kunjungan seorang anak yang tinggal di kota kepada orang tuanya di desa, seorang pengusaha yang memiliki usaha di desa, seorang wisatawan ke lokasi-lokasi wisata di desa dan seterusnya.

Bersamaan dengan itu terjadilah peningkatan daya beli di desa-desa karena meningkatnya kunjungan orang kaya, UMKM pun bisa bergerak tumbuh seterusnya terjadi perluasan penyebaran perputaran uang dari hanya di kota menjadi tersebar ke desa.

Dan ujungnya terjadi pengurangan kesenjangan antara desa dengan kota yang berarti juga peningkatan keadilan dan pemerataan kesejahteraan.

Salahuddin Harahap (Jenggala Center Sumatera Utara) – 08-02-2019

You may also like...