Jokowi itu Komunis, Antek China dan Anti Islam Katanya

Tulisan Christianto Wibisono:

Tadi pagi ngobrol sm anak2 PL 83 di warung gado2 di Plaza Senayan, ada yg menarik.

Selama ini kita selalu ‘dipaksa’ berpikir sama agitator #02 bhw Jokowi itu komunis, antek Cina, anti Islam, dst. Seolah2 Jokowi itu sedemikian buruknya sehingga sudah mendekati iblis.

Sementara dr komunitas #01, kita melihat mereka tidak ‘tega’ utk menguliti semua keburukan dalam rekam jejak Prabowo dan Sandi. Termasuk ketidak-pastian masa depan jika #02 berkuasa. Seperti ada rasa enggan, ewuh pakeuwuh, sungkan, dst..

Mungkin pendukung #01 ini merasa lebih beradab, terdidik, taat agama dan menjunjung etika dlm ber demokrasi.

Saya bilang situasi ini sama dengan ;

1. Awal 1920an ketika Jerman kalah PD I dan rakyat yg frustasi terbuai dengan kampanye NAZI dan orasi Hitler. Hanya butuh satu dekade bagi mereka utk membangun semangat ‘membenci’ Yahudi dan bangsa Jerman yang disiplin itu menjadi pemusnah etnis nomer satu di Eropa saat itu..

2. Awal 1970an ketika monarki Sihanouk melemah dan rakyat kelaparan, maka Khmer Merah maju membawa jargon baru kemakmuran bersama, dan hanya butuh kurang dari satu dekade utk merubah orang Kambodja yangg sopan dan penuh cinta menjadi mesin pembunuh seperti di film Killing Fields yg terkenal itu. Hanya dengan kampanye ‘membenci’ orang pintar, maka musnah lah satu generasi warga terdidik bangsa itu kembali ke zaman batu.

Kita masih bisa membaca cerita sejenis di beberapa negara Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin dan Eropa Timur dan Balkan, dimana manusia yg awalnya dilahirkan polos tanpa agama, suku, golongan dan ideologi apapun, bisa ‘dilatih’ untuk ‘membenci’ selama bertahun-tahun dan merubah perilaku disiplin, sopan santun dan penyayang menjadi beringas, trengginas, kejam, berani pembunuh, menyiksa dan bahkan biadab.

Semua dimulai dengan proses belajar membenci orang lain !

Tidak peduli suku, bangsa, agama, etnis, apa saja.

Jika kita perhatikan budaya yg dikembangkan kelompok #02 adalah budaya ‘menyalahkan’ dan ‘membenci’ pemimpin #01 dan pengikutnya. Semua yang telah dilakukan adalah keliru, menyimpang dan tidak ada yang benar atau bahkan tidak ada baiknya sedikitpun.

Polarisasi berpikir seperti ini merata dan cenderung membutakan kebenaran lain yang ada di sekitarnya…

Secara perlahan tapi pasti, akan terbentuk satu generasi pembenci yg anti toleransi. Jika mereka berkuasa, polarisasi ini akan dipertahankan sebagai sistem pertahanan rezim baru yang membelah bangsa ini menjadi ‘KITA’ dan ‘KAMU’ !

Jika KITA berkuasa, maka cepat atau lambat KAMU harus hilang ! Memperhatikan pengalaman dan kemampuan Prabowo di masa lalu yang ‘tega’ melakukan tindakan anti demokrasi secara terencana dan sistematis, maka jika #02 menang, bukan tidak mungkin kita akan menuai bangkitnya komunitas ekstrim seperti Nazi, Khmer Merah, Militan Serbia, Boko Haram, dsb di Indonesia..

Jangan pernah menegasi kemungkinan itu karena bangsa ini pernah pecah dan nyaris perang saudara di 1965 dalam situasi spt itu. Tanyakan ke orang tua kita masing-masing bagaimana takutnya mereka dulu. PL 83 mungkin masih setahun atau sebulan saat itu.

Jadi ?

Saya memilih No 1 bukan hanya karena sangat yakin bahwa hidup bangsa ini akan lebih baik di lima tahun mendatang.

Tapi saya memilih No 1 karena saya sangat takut jika No 2 yg menang, tidak akan cukup kapal yg dapat mengangkut pengungsi keluar dr Indonesia akibat perang saudara dan pembersihan etnis.

Sekali lagi,

Jangan bilang ini tidak mungkin terjadi.

You may also like...