Jokowi sang Pemimpin Visioner

Pemimpin yang visioner

Kawan-kawan, menurut kalian, hal apa yang paling menonjol perubahan kebijakan pemerintah saat ini? Yak benar, infrastrukur. Infrastrukur di sini bukan menjadi hasil akhir dari kebijakan, tapi ini adalah salah satu sarana untuk mewujudkan cita-cita luhur yakni menjadi negara yang adil dan makmur.

Dengan adanya pemerataan infrastruktur yang tidak terpusat di Jawa, membuktikan bahwa pemerintahan mengayomi seluruh elemen masyarakat yang ada, bahkan sampai di daerah pinggiran.

Presiden Jokowi adalah sosok yang visioner. Dia tidak hanya memperhitungkan hasil pendek atau sementara, tapi dia mampu memetakan yang sepatutnya menjadi strategi  matang dan mampu berdampak dalam jangka panjang.

Infrastruktur yang dilaksanakan saat ini adalah “modal besar” untuk keberlangsungan ekonomi masyarakat setiap harinya. Namun visi besarnya adalah Indonesia menjadi adil dan makmur

Dengan segala hormat kita harus angkat topi akan performa pemerintahan Jokowi-Jk saat ini.

 

Strategi makan bubur

Jokowi mempunyai paradigma dalam nawa cita yang diperjuangkannya, yakni pembangunan dari desa/daerah. Hampir mirip dengan istilah strategi makan bubur dari pinggir.

Sekelas Presiden rela memberi perhatian langsung dan lebih ke daerah-daerah pinggiran, dari Aceh ke Papua, dari Sulawesi Utara ke NTT yang mana daerah itu memang daerah pinggiran.

Dengan paradigma pembangunan dari pinggir ke pusat, Jokowi berharap di Indonesia bisa terwujud keadilan yang merata, tidak hanya terpusat di Jawa khususnya Ibu Kota.

Desentralisasi daerah bisa menjadi solusi. Pemerintah tidak harus bergerak ke lapangan dan “melecut” pemerintah daerah yang ada. Daerah bisa mandiri untuk menentukan mana prioritas bagi mereka.

Dengan adanya kekompakan antara pusat dan daerah, maka langkah langkah strategis bisa berjalan dengan mulus dan cepat.

 

Masalah menjadi tantangan lalu menjadi kesempatan

Pemerintahan Jokowi-JK untuk mencapai visi berupa nawa cita, pasti telah terbayang masalah-masalah yang harus diselesaikan. Untungnya pemerintah mempunyai cara pandang bahwa masalah harus kita jadikan sebagai tantangan, bahkan kalau bisa kita jadika kesempatan.

Jika masalah sudah dianggap sebagai kesempatan, maka semangat untuk menaklukannya akan berlipat ganda dan bayangan beban kesulitan pun akan meredup.  Karena lewat paradigma kesempatan ini pemerintah bisa mempercepat kerja-kerja negara yang ada dengan perasaan  penuh dengan optimis untuk keberhasilannya.

 

Tetap Rendah Hati

Pemerintah dalam 4 tahun ini dianggap telah melakukan yang terbaik. Namun pemerintahan Jokowi-JK harus tetap rendah hati dalam menyikapinya. Masih ada PR yang harus segera diselesaikan.

Visi pemerintah tidak hanya berprestasi secara nasional saja, tapi menembus internasional bahkan menjadi role model untuk negara-negara lain.

Untuk mencapai cita-cita tadi mau tidak mau masyarakat Indonesia harus bekerja sama sesama anak bangsa, saling mendukung, dan tidak berkutat di perdebatan kusir yang tidak produktif. Energi yang ada lebih baik disalurkan ke hal yang sifatnya berkarya.

 

Dari SDA ke SDM

Pembangunan tidak hanya berbicara tentang betonisasi, tapi pembangunan kualitas manusianya juga harus menjadi prioritas utama. Sekaya-kayanya negara akan sumber daya alamnya, tapi kalau sumber daya manusianya buruk ya sama aja. Yang ada malah salah manajemen yang mengakibatkan krisis.

Kita sepatutnya belajar dari negara Singapura. Negara mungil tersebut bisa menjadi negara maju walau tanpa anugerah sumber daya alam yang kaya. Bermodal peningkatan kualitas manusia, Singapura yang dulu merasa terkucilkan di Asia Tenggara kini menjadi pioner dan standar kemajuan sebuah negara. Tidak ada yang instan, bisa dipastikan Singapura bertahap dan menemukan banyak masalah.

Olehnya, di Indonesia Pemimpin visioner memang harus menjadi dirigen bagi yang lain. selama semua komponen dan elemen bisa beriringan dengan harmonis, maka bisa dipastikan akan tercipta karya maestro yang luar biasa.

 

You may also like...