3 Hal yang Harus Kamu Lakukan Agar Berdikari Politik di Tahun 2019

 

Kita sudah memasuki tahun 2019, banyak orang menganggapnya sebagai tahun politik. Sebenarnya bisa dikatakan benar, karena di tahun ini Indonesia mempunyai hajat besar yakni adanya pemilihan umum dan pemilihan presiden.

Sebagai anak muda, apa sih yang harus dipersiapkan menyambut tahun politik seperti ini. Kenapa di media pemberitaan dan media sosia seolah ribut dan masyarakat terpolarisasi menjadi dua. Apa yang harus kita lakukan.

Memahami Demokrasi

Akar permasalahan yang tak kunjung usai adalah pemahaman politik khususnya demokrasi yang sangat terbatas. Banyak orang yang beranggapan demokrasi  adalah sebatas memilih dengan mencoblos calon-calon yang ada pada kertas pemilihan di balik kotak pemilihan suara.

Jika merujuk pada teori-teori tentang demokrasi, ada dua hal yang bisa dilihat secara umum. Pertama demokrasi substansial, kedua demokrasi prosedural.

Demokrasi Prosedural adalah aktifitas seperti pemilihan atau peralihan struktur lembaga pemerintahan secara adil.

Sedangkan demorasi substansial membincang tentang nilai-nilai demokrasi seperti hukum, HAM, keterbukaan informasi, kebebasan yang bertanggung jawab, transparansi dan partisipasi masyarakat.

Jadi demokrasi tidak bersifat periodik, tapi berlangsung terus menerus. Masyarakat harus terlibat aktif dalam pengawasan pelaksanaan kebijakan lembaga-lemba pemerintah.

 

Kritis Terhadap Isu Faktual

Dalam masa kampanye seperti ini, banyak sekali pemberitaan-pemberitaan politik mulai dari yang penting sampai remeh temeh.

Untuk hal-hal yang penting, kawan-kawan harus bisa menganalisa kebenaran informasi yang ada. Semisal hari ini ada isu surat pemilihan suara dalam 7 kontainer yang sudah tercoblos.

Secara nalar itu tidak mungkin, mana bisa kertas suara yang belum dicetak bisa ada. Kan engga masuk akal hal seperti itu.

Ini menjadi sikap yang harus dilakukan untuk meminimalisir adanya penyesatan informasi publik. Dengan kritis terhadap isu faktual, bisa membuat filter di pikiran kawan-kawan.

Jangan karena beritanya viral otomotatis benar, ya belum tentu juga. Jadi ingat ya, harus kritis!

 

Tentukan Sikap Pilihan

Kawan-kawan harus mempunyai pandangan yang diturunkan menjadi sikap politik. Sikap politik tadi harus dilandaskan pada hati nurani, tidak berlandaskan pada kepentungan sesaat.

jika dalam Pemilu dan Pilpres ini kawan-kawan meyakini ada calon yang akan membawa dan memperjuangkan aspirasi masyarakat dengan benar ya kawan-kawan harus dukung.

Tapi sekali lagi, dalam masa seperti ini, sifat culas dan keserakan calon bisa disembunyikan dalam topeng berbentuk kampanye turun ke masyarakat. Maka mau tidak mau kita harus mengedepankan sikap kritis terhadap calon calon yang ada.

Jika sudah mantab pilihannya, entah A atau B atau bahkan tidak sama sekali, tentukan itu sebagai sikap yang tegas, jangan bersikap abu-abu.

 

Tiga hal di atas adalah pondasi yang kuat untuk menjadi pribadi yang berdikari di tahun 2019 ini. Kalau hanya seperti kerbau yang mengikuti simpul tali . Ya kamu engga ada bedanya dengan kerbau dong.

kiranya kita bisa bercermin tulisan Soe Hok Gie di buku Catatan Seorang Demonstran.

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”

– Soe Hok Gie –

 

You may also like...