Humor ala Jusuf Kalla

 

Humor merupakan salah satu sarana komunikasi, seperti menyampaikan informasi, menyatakan rasa senang, marah, jengkel dan simpatik.

Tidak semua orang mampu melakukannya karena humor, di samping membutuhkan kegembiraan sebagai pengalaman emosionalnya.

tawa sebagai pengalaman fisiologisnya, humor membutuhkan juga kecerdasan yang mumpuni sebagai pengalaman kognitifnya.

Salah satu tokoh sangat piawai dalam hal ini adalah Muhammad Jusuf Kalla.
Semua orang tahu, SBY singkatan dari Susilo Bambang Yudhoyono. Lantas, Muhammad Jusuf Kalla kok disingkat JK, bukannya MJK?!

Saat Pilpres 2004 lalu, Jusuf Kalla bersama Susilo Bambang Yudhoyono ingin membuat iklan kampanye. Awalnya dibuat tagline “SBY-Muhammad Jusuf Kalla,”

namun dia merasa tidak enak karena namanya terlalu mendominasi, “masa saya sebagai Cawapres lebih banyak mengambil space daripada nama Beliau sebagai Capres yang hanya tiga huruf,” keluhnya.

Kemudian nama Muhammad Jusuf Kalla disingkat menjadi tiga huruf, maka dicetaklah berbagai atribut kampanye yang berbunyi, “SBY-MJK”.

The Real President yang dikenal kritis itu memperhatikan secara seksama singkatan namanya. Beliau merasa ada yang mengganjal, karena MJK beda tipis dengan MCK (Mandi Cuci Kakus).

“Wah, bisa bahaya ini, salah-salah nanti kita diplesetkan jadi SBY dan MCK,” gumannya dalam hati.

Bukan namanya Jusuf Kalla kalau tidak memberi jalan keluar, sekonyong-konyong dia menyimpulkan,”berhubung saya Cawapres maka tidak mengapalah saya mengalah sedikit.

Saya pakai dua huruf saja menjadi JK”. Akhirnya sapaan JK digunakan hingga saat ini.

Sewaktu menjabat sebagai Wapres, JK berkunjung ke Amerika. Beliau menjelaskan bahwa mutu pendidikan di Indonesia sangat baik. Atas penjelasan itu, seorang balik bertanya, “why?”

Dengan gayanya yang santai, dia menjawab, “bayangkan, lulusan SD saja di negara kami bisa menjadi Presiden di negara Anda.

Coba mana ada lulusan SD dari negara Anda yang menjadi presiden di negara kami?” Pada era Kabinet Indonesia Bersatu jilid satu, Menteri Perumahan Rakyat kala itu dijabat oleh Muhammad Yusuf Asy’ari mendapat teguran dari JK, pasalnya setiap kali meresmikan tiang pancang pembangunan RUSUNAWA, maka selesai juga proyek itu tanpa ada tindak lanjut.

Agar pak Menteri tidak tersinggung, JK berkelakar, “dulu waktu zaman Fir’aun masa kekeringan selama 7 tahun bisa ditangani oleh satu orang Yusuf saja. Masa persoalan perumahan yang sudah ditangani oleh dua orang Yusuf tidak bisa beres?”

Dalam coretan JK yang bertajuk “Detik-detik Perdamaian Aceh. Skenario 2 Halama Folio,” ada cerita menarik dari proses perdamaian itu. JK meminta mantan Presiden Finlandia, Marti Ahtisari ikut terlibat.

Permintaan disetujui dan Ahtisari meminta dibuatkan mandat tertulis sebagai mediator perdamaian antara GAM dan RI. Tanpa pikir panjang, JK langsung mengirimkan SMS yang berisikan mandat itu.

Terang saja mantan Presiden Finlandia protes. JK membela diri dan berkata, “Bapak kan minta mandat tertulis, SMS itu kan bentuknya tulisan juga? Apalagi sekarang sudah larut malam”. Besoknya JK langsung membuat mandat tersebut.

Lain lagi dalam tulisan Beliau “Sejarah Konflik Aceh Berawal dari Ketidakadilan,” setelah mendapat mandat dari Presiden untuk mendamaikan Aceh, JK langsung menyerahkan ke Hamid Awaluddin, dr. Farid, dan Sofyan Djalil untuk mengurusi hal-hal teknis.

Mereka semuanya bekerja dengan ikhlas tanpa SK yang resmi. Hingga suatu saat ada juga yang mempertanyakan SK tersebut, JK langsung berkomentar, “kalau mau mendamaikan orang kanapa harus pakai SK?

Itu tidak ikhlas namanya, apalagi secara legal tidak ada Kepwapres!” Meski pada akhirnya JK mengeluarkan juga SK yang ditanda-taganinya sendiri.

Setelah menjadi Ketua Umum PMI, kebiasan humornya tidak kendur. Suatu ketika, JK berkunjung ke daerah-daerah untuk mengecek ketersediaan darah yang ada di sana, selalu saja mengalami kekurangan stok.

Idealnya harus mempunyai stok darah sebanyak 4 persen dari jumlah penduduknya. Namun kenyataan yang ada di lapangan hanya 0,7 persen saja, masih jauh di bawah standar.

Hal ini disebabkan karena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk berdonor. JK beraksi, “PMI dalam melakukan aksinya jangan seperti dukun, ia harus seperti ulama. Kalau dukun didatangi, sedang ulama mendatangi orang!” Hingga akhirnya PMI proaktif mendatangi masyarakat memberi penyadaran tentang pentingnya berdonor.

Bukan hanya itu, JK memplesetkan motto yang sangat terkenal, “berjuang hingga tetes darah terakhir,” menjadi “berjuang sampai dengan tetes darah yang pertama, karena setiap tetes darah Anda adalah kehidupan bagi sesama Anda yang sedang menderita, maka mulai sekarang donorkanlah darah Anda agar kamu sehat dan dapat amal ibadah!”

Tak ayal lagi, dalam berinteraksi dengan siapa saja, JK menggunakan humor sebagai sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi, memotivasi, menyindir secara halus, dan tentunya membuat suasana menjadi nyaman.

Inilah kehebatan JK, di samping berani, kritis, tanggap, cerdas, dan merakyat. Oleh karenanya, seorang pemimpin harus mempunyai sense of humor, sebagaimana yang pernah disyaratkan oleh Presiden AS ke-34, Dwight David Eisenhower, “selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan!”

You may also like...