Manfaat Pembangunan Infrastruktur Banyak Dirasakan Masyarakat

SALAH satu fokus pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla adalah pembangunan infrastruktur. Pembangunan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan pemerataan di seluruh Tanah Air.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyebutkan, berbagai jenis pembangunan infrastruktur yang dibangun kini telah memberikan dampak positif untuk sisi sosial maupun ekonomi. Beberapa proyek yang dimaksud, seperti proyek ketenagalistrikan yang sudah berhasil menerangi 1,7 juta rumah tangga baru atau sekitar atau 6,7 juta jiwa, proyek air bersih dan irigasi yang telah mampu meningkatkan kapasitas air hingga 10.140 liter/detik. Proyek tersebut telah memenuhi kebutuhan air bersih untuk 1,5 juta rumah tangga atau 5,8 juta jiwa. Selain itu, proyek irigasi yang telah mengairi 96 ribu hektare area persawahan.

Di luar rumah tangga, terdapat proyek infrastruktur yang mengedepankan konektivitas seperti jalan, bandara dan pelabuhan. Dengan adanya proyek infrastruktur bandara, baik pembangunan baru ataupun renovasi, kapasitas pelayanan dapat meningkat hingga 37,5 juta penumpang per tahun. Di sektor transportasi perkotaan, pemerintah berhasil menambah 80 kereta listrik. Sarana transportasi baru itu berdampak terhadap peningkatan kapasitas 7,3 juta penumpang per tahun.

“Yang terdampak itu tidak hanya warga di sekitar proyek, tetapi juga seluruh masyarakat. Mereka menjadi penerima manfaat dari seluruh proyek itu,” ujar Fithra dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Lansekap Dasawarsa Infrastruktur Indonesia di Kantor Media Group, Jakarta, Selasa (14/8).

Saat ini, faktor global yang tidak menentu memang memberikan dampak bagi Indonesia. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tentu memengaruhi kinerja pembangunan infrastruktur karena sebagian bahan baku harus diimpor.

“Sekarang pemerintah tengah berusaha menekan current account defisit dengan mengurangi impor, tetapi buka berarti kita menahan pembangunan. Kita bisa mengganti produk-produk yang diimpor dengan produk hasil dalam negeri, walaupun akan ada potensi kenaikan ongkos produksi karena secara kapasitas, industri kita belum memadai,” terangnya.

Ia menambahkan, pengurangan impor untuk bahan baku infrastruktur tidak akan mengganggu pembangunan di Tanah Air karena fasilitas-fasilitas penting yang mendasar sudah selesai dikerjakan. (OL-7)

You may also like...